Hari Selasa ini terasa sedikit "berat". Langit Jakarta mendung menggantung, tapi udaranya gerah bukan main. Di tengah suasana yang bikin gerah hati dan fisik ini, tiba-tiba Oma mengajak pergi: "Ayo ke Bogor, kita tengok rumah lama."
Tanpa pikir panjang, kami langsung meluncur.
Persinggahan di Tajur
Tujuan pertama adalah Tajur, Bogor. Rasanya kurang afdol kalau ke Bogor tapi tidak bawa buah tangan. Jadi, kami sempatkan mampir membeli oleh-oleh untuk kerabat di sana. Lucu ya, padahal Bogor itu gudangnya makanan, tapi tradisi membawa buah tangan tetap jadi perekat silaturahmi yang paling manis.
Sebelum ke rumah utama, kami mampir dulu ke salah satu rumah kerabat. Di sinilah suasana mulai berubah haru. Kami mendapat kabar bahwa Oma penghuni rumah utama sedang sakit keras dan sudah tidak bisa berjalan lagi.
Kabar dari Rumah Utama
Begitu sampai di rumah utama, hati rasanya mencelos melihat kondisi Oma. Ternyata, kombinasi kolesterol dan gula darah tinggi membuatnya harus terbaring lemah. Kami hanya bisa memberikan semangat dan doa agar beliau bisa kembali pulih.
Karena kondisi rumah sedang fokus pada perawatan, kami memesankan makanan secara online untuk Oma di rumah agar beliau bisa istirahat tenang, sementara kami mencari makan siang di luar.
Semangkuk Pho dan Kabar Duka
Kami memutuskan untuk melipir ke kawasan Summarecon Bogor. Pilihan jatuh pada kedai mie Vietnam (Pho). Kuah hangatnya sempat membuat suasana sedikit rileks, sampai tiba-tiba sebuah pesan masuk di ponsel: Seorang saudara di Bogor baru saja berpulang.
Hari yang tadinya niatnya "hanya" silaturahmi, mendadak berubah menjadi perjalanan takziah.
Perjuangan Menuju Sinar Kasih
Tujuan langsung dialihkan ke Rumah Duka Sinar Kasih. Jalur Bogor sore itu benar-benar menguji kesabaran—macet total! Namun, rasa lelah terbayar saat sampai di sana. Kami bertemu keluarga besar, saling menguatkan, dan berbincang sejenak mengenang almarhum.
Setelah berdoa, kami kembali lagi ke Tajur untuk berpamitan dan mendoakan sekali lagi Oma yang sedang sakit sebelum akhirnya memutuskan pulang ke Jakarta.
Arus Balik
Perjalanan pulang ke Jakarta adalah perpaduan antara macet dan lancar, berbarengan dengan arus orang-orang yang kembali ke ibu kota. Sepanjang jalan saya termenung, betapa hidup itu hanya tentang mampir dari satu pintu ke pintu lainnya.
Quote Hari Ini:
"Rencana awal ke rumah saudara buat silaturahmi, eh malah lanjut ke rumah saudara yang lagi sakit, dan berakhir di rumah duka buat melayat. Hidup kalau nggak plot twist, kayaknya kurang lengkap ya?" 😅🥲
Jangan lupa mlipir di JDziva.my.id yaaaa...
Comments