Skip to main content

Busway ( masih ) belum berpihak kepada penyandang cacat

Judul tulisan ini aku buat sedemikian rupa,bukan karena aku sok sosial, sok pembela dan pemerhati lingkungan. Tapi inilah kenyataaan yang aku harus lihat sehari-hari.

Pada awalnya aku melihat project busway ini selain mengakomodir transportasi umum ,yang pada awalnya merupakan trasnsportasi alternatif, tapi yang kemudian (kenyataannya ) menggeser beberapa trayek umum. Juga mengakomodir untuk orang-orang cacat ( disable person ).

Kalau aku melihat untuk segi kendaraannya sendiri, aku melihat sudah ada tanda (sign) dalam bentuk icon, dan tempat yang sudah disediakan bagi para penyandang cacat. Biasanya dalam bus tersebut untuk penyandang cacat disediakan tempat didekat pintu tengah, agar supaya tidak menyulitkan mereka untuk masuk dan ataupun keluar dari bus.

Namun, kembali ke realita. Mereka akan susah sekali naik ke bus di karenakan penuh sesaknya penumpang yang menunggu dibeberapa titik halte. Armada yang masih jauh dibawah kebutuhan yang menyebabkan salah satu kenapa adanya penumpukan dititik halte dan penuh sesaknya penumpang didalam bus.

Selain itu, infrastruktur kelengkapan dari halte yang "tidak bersahabat" dengan para penyandang cacat ini. Aku contohkan saja salah satu halte dikawasan Gunung Sahari, Halte Budi Utomo, dan hal ini terjadi dan dapat dilihat dibeberapa halte yang tersebar di semua koridor busway.

Betapa tidak, andaikan kita membawa orang yang notabene *maaf* dengan menggunakan kursi roda. Disalah satu sisi kita bisa mengantarkan sampai depan pintu loket busway, karena galley yang dibuat menanjak dan tanpa anak tangga ( trap ).

Tapi apabila disisi seberangnya kita akan menghadapi anak tangga untuk menuju pintu loket busway. Tega kah kita dalam hal ini ? Dimanakah nurani para aparat yang berwenang ? Apakah akan kita biarkan si penyandang cacat ini kesulitan untuk menaiki anak tangga yang jumlahnya ( bagi orang normal ) sedikit.

Ternyata ( sampai ) saat ini Busway belum berpihak kepada mereka yang tidak beruntung ( disable person ).

~cheers~
uLieL
YM-id : foxangeli
album : http://www.flickr.com/photos/sikeciel

Comments

Popular posts from this blog

Selasa di Bogor: Antara Rindu, Doa, dan Perpisahan

Hari Selasa ini terasa sedikit "berat". Langit Jakarta mendung menggantung, tapi udaranya gerah bukan main. Di tengah suasana yang bikin gerah hati dan fisik ini, tiba-tiba Oma mengajak pergi: "Ayo ke Bogor, kita tengok rumah lama." Tanpa pikir panjang, kami langsung meluncur. Persinggahan di Tajur Tujuan pertama adalah Tajur, Bogor . Rasanya kurang afdol kalau ke Bogor tapi tidak bawa buah tangan. Jadi, kami sempatkan mampir membeli oleh-oleh untuk kerabat di sana. Lucu ya, padahal Bogor itu gudangnya makanan, tapi tradisi membawa buah tangan tetap jadi perekat silaturahmi yang paling manis. Sebelum ke rumah utama, kami mampir dulu ke salah satu rumah kerabat. Di sinilah suasana mulai berubah haru. Kami mendapat kabar bahwa Oma penghuni rumah utama sedang sakit keras dan sudah tidak bisa berjalan lagi. Kabar dari Rumah Utama Begitu sampai di rumah utama, hati rasanya mencelos melihat kondisi Oma. Ternyata, kombinasi kolesterol dan gula darah tinggi membuatnya haru...

One Day Trip Perjalanan Dinas ke Bandung: Kereta, Coding, dan Travel 80km/jam!

Senin kemarin, tim kantor saya dapet tugas buat meluncur ke Kota Kembang. Bukan buat liburan cantik, tapi ada agenda penting ketemu klien. Perjalanan kali ini bener-bener definisi "efisiensi waktu". Berangkat: Laptop Tetap On! Kami pilih naik Kereta Api buat keberangkatan. Emang paling bener, sih. Selain bebas macet, suasana gerbong yang tenang malah bikin fokus makin tajam. Alhasil, sepanjang jalan saya bukannya liatin pemandangan, tapi malah asyik oprek laptop buat beresin kerjaan. Productivity on track! Bandung yang "Hangat" Sampai di Bandung, kami langsung disambut cuaca yang cukup kontras sama ekspektasi. Hari itu Bandung lagi cerah banget, terik, dan panasnya lumayan nendang. Ditambah lagi drama kemacetan kota yang khas, bikin perjalanan menuju lokasi klien jadi tantangan tersendiri. Tapi semua terbayar setelah diskusi bareng klien selesai dengan lancar. Pulang: Melaju Cepat dengan Shuttle Beres urusan, kami langsung arah balik ke Jakarta. Kali ini, kami pil...

Libur Lebaran 2026: Jakarta Ramai, Bagaimana Wisata Luar Kota?

Halo teman-teman! Nggak terasa ya, euforia Lebaran sudah mulai bergeser ke fase arus balik. Kalau kita lihat pemandangan di Jakarta selama beberapa hari terakhir, suasananya seru banget. Tempat hiburan "merakyat" seperti TMII, Ragunan, dan Kota Tua benar-benar jadi primadona. Ribuan wisatawan datang membawa sanak saudara, lengkap dengan bekal makanan melimpah yang digelar di atas tikar. Tradisi "makan bareng" keluarga besar ini sukses bikin suasana makin hangat! Kondisi ini tentu jadi berkah luar biasa buat para pedagang di sekitar lokasi wisata. Mereka benar-benar panen rejeki sepanjang libur Lebaran 2026 ini karena daya beli masyarakat di ibu kota tetap stabil untuk hiburan yang terjangkau. Kontras dengan Wisata Luar Kota Namun, cerita berbeda datang dari luar kota. Beberapa info menyebutkan adanya penurunan omzet di destinasi wisata daerah. Kabarnya, selain karena daya beli masyarakat yang sedang turun, penerapan tarif retribusi wisata yang cukup tinggi per ke...