Skip to main content

Sekelumit cerminan transpotasi public di Jakarta

Beberapa waktu yang lalu saya pulang dari kantor di kawasan Gunung Sahari ke arah Cawang ( UKI ), berhubung karena saya tidak membawa motor, maka saya naik kendaraan umum, yakni bus kota. Kondisi cuaca saat itu tidak kondusif, karena hujan turun dengan sangat deras.

Pada awalnya saya berpikir untuk naik "Busway" ( dari dulu ini istilah yang sangat SALAH KAPRAH..!! ). Namun, setelah saya lihat kondisi real dilapangan, bahwa busway tidak kunjung datang, dan kepadatan dibeberapa halte sampai mengular. Saya pun mengurungkan niatan untuk naik mode transportasi ini. Saya hanya bisa melihat dari arah kantor, yang kebetulan berseberangan dengan halte Busway di kawasan Senen ini.

Akhirnya saya mencoba alternatif lainnya, yakni naik biskota. Penungguan yang cukup lama pun sedikit terobati karena buskota yang saya tunggu pun tiba.

Namun, alangkah terkejutnya saya ketika naik bis ini. Disamping sudah penuh sesak dengan penumpang ( malahan isinya paling banyak adalah anak salah satu sekolah teknik di Jkt ), kondisi kendaraan pun sangat tidak layak, jauh dari kesan nyaman.

Betapa tidak, saya semula bertanya dalam hati, apakah saya salah masuk cafe ? salah masuk bis ? atau apa ?.... Karena begitu saya naik, terpampang dihadapan saya adalah penuh dengan payung yang terbuka. Buka payung dalam bis ?

Ukuran dan model payung ini terbuka dibeberapa bagian bis, menurut mereka kondisi ini mereka lakukan karena atap diatas mereka bocor, dan tidak sanggup menahan hujan yang turun pada waktu itu.Bocor dibeberapa bagian ini, menyebabkan ada beberapa penumpang yang basah.

Kondisi yang sungguh sangat jauh dari kesan nyaman dan aman, dan diperparah dengan adanya kondisi tidak laik jalannya kendaraan yang sampai saat ini harus `dipaksakan` jalan demi mendapatkan rejeki. Seharusnya pihak terkait memperhatikan hal ini.

Dinas Perhubungan yang selaku pihak yang paling berkompeten dalam hal ini, seyogyanya memberikan `reward and punishment` terhadap para operator ini. Jangan hanya menerima jerih payah dari beberapa `trayek` yang mereka tempuh. Kendaraan yang tidak laik jalan pun mereka loloskan, hanya karena menerima `imbalan` dari beberapa oknum yang tidak bertanggung jawab.

Marilah kita ciptakan suatu moda angkutan public yang sangat aman, nyaman yang sangat didambakan oleh masyarakat kalangan menengah kebawah.

~cheers~
uLieL
YM-id : foxangeli
album : http://www.flickr.com/photos/sikeciel

Comments

Popular posts from this blog

Selasa di Bogor: Antara Rindu, Doa, dan Perpisahan

Hari Selasa ini terasa sedikit "berat". Langit Jakarta mendung menggantung, tapi udaranya gerah bukan main. Di tengah suasana yang bikin gerah hati dan fisik ini, tiba-tiba Oma mengajak pergi: "Ayo ke Bogor, kita tengok rumah lama." Tanpa pikir panjang, kami langsung meluncur. Persinggahan di Tajur Tujuan pertama adalah Tajur, Bogor . Rasanya kurang afdol kalau ke Bogor tapi tidak bawa buah tangan. Jadi, kami sempatkan mampir membeli oleh-oleh untuk kerabat di sana. Lucu ya, padahal Bogor itu gudangnya makanan, tapi tradisi membawa buah tangan tetap jadi perekat silaturahmi yang paling manis. Sebelum ke rumah utama, kami mampir dulu ke salah satu rumah kerabat. Di sinilah suasana mulai berubah haru. Kami mendapat kabar bahwa Oma penghuni rumah utama sedang sakit keras dan sudah tidak bisa berjalan lagi. Kabar dari Rumah Utama Begitu sampai di rumah utama, hati rasanya mencelos melihat kondisi Oma. Ternyata, kombinasi kolesterol dan gula darah tinggi membuatnya haru...

One Day Trip Perjalanan Dinas ke Bandung: Kereta, Coding, dan Travel 80km/jam!

Senin kemarin, tim kantor saya dapet tugas buat meluncur ke Kota Kembang. Bukan buat liburan cantik, tapi ada agenda penting ketemu klien. Perjalanan kali ini bener-bener definisi "efisiensi waktu". Berangkat: Laptop Tetap On! Kami pilih naik Kereta Api buat keberangkatan. Emang paling bener, sih. Selain bebas macet, suasana gerbong yang tenang malah bikin fokus makin tajam. Alhasil, sepanjang jalan saya bukannya liatin pemandangan, tapi malah asyik oprek laptop buat beresin kerjaan. Productivity on track! Bandung yang "Hangat" Sampai di Bandung, kami langsung disambut cuaca yang cukup kontras sama ekspektasi. Hari itu Bandung lagi cerah banget, terik, dan panasnya lumayan nendang. Ditambah lagi drama kemacetan kota yang khas, bikin perjalanan menuju lokasi klien jadi tantangan tersendiri. Tapi semua terbayar setelah diskusi bareng klien selesai dengan lancar. Pulang: Melaju Cepat dengan Shuttle Beres urusan, kami langsung arah balik ke Jakarta. Kali ini, kami pil...

Libur Lebaran 2026: Jakarta Ramai, Bagaimana Wisata Luar Kota?

Halo teman-teman! Nggak terasa ya, euforia Lebaran sudah mulai bergeser ke fase arus balik. Kalau kita lihat pemandangan di Jakarta selama beberapa hari terakhir, suasananya seru banget. Tempat hiburan "merakyat" seperti TMII, Ragunan, dan Kota Tua benar-benar jadi primadona. Ribuan wisatawan datang membawa sanak saudara, lengkap dengan bekal makanan melimpah yang digelar di atas tikar. Tradisi "makan bareng" keluarga besar ini sukses bikin suasana makin hangat! Kondisi ini tentu jadi berkah luar biasa buat para pedagang di sekitar lokasi wisata. Mereka benar-benar panen rejeki sepanjang libur Lebaran 2026 ini karena daya beli masyarakat di ibu kota tetap stabil untuk hiburan yang terjangkau. Kontras dengan Wisata Luar Kota Namun, cerita berbeda datang dari luar kota. Beberapa info menyebutkan adanya penurunan omzet di destinasi wisata daerah. Kabarnya, selain karena daya beli masyarakat yang sedang turun, penerapan tarif retribusi wisata yang cukup tinggi per ke...