Skip to main content

The Good, The Bad and The Ugly

The Good, The Bad and The Ugly..

Hampir sama dengan judul sebuah film  layar lebar yang dibintangi oleh Aktor Clint Eastwood yang diputar pada tahun 1966.

Namun judul bisa jadi bisa diaplikasikan pada dunia sektor perminyakan. Sebagaimana kita ketahui, harga minyak akhir-akhir ini mencapai titik terjauhnya. Turun lebih dari 60% dari harga $100 per barrel.

Harga titik terbawahnya sampai akhir-akhir ini berkisar antara $42 - 43. Turun dari perkiraan para ahli dan para pakar lainnya yang memprediksi awal bahwa harga minyak akan "diam" di $45 per barrel

Ada 3 skenario besar yang masih menjadi kemungkinan...
  • Skenario "The Good"  
OPEC ( perkumpulan negara-negara penghasil minyak ) + Rusia akan memotong / menahan produksi minyaknya pada bulan Juni 2015. Skenario ini akan berdampak harga minyak akan tampil di kisaran $65 - $70 per barrel sampai dengan akhir tahun 2015.

  • Skenario "The Bad"
OPEC tetap melanjutkan produksi minyak di Juni 2015 dan Produksi minyak di Amerika dan dipusat tangki-tangki penyimpanan minyak di Amerika tidak berubah. Kisaran harga yang dicapai mungkin tidak akan lebih dari $50 per barrel.

  • Skenario "The Ugly"
OPEC tetap berproduksi, Produksi di Amerika meningkat dan Pencabutan sanksi minyak atas Iran dicabut. Hal ini yang akan menyebabkan hasil produksi minyak dari Iran akan membanjiri pasaran sehingga ketersediaan minyak lebih besar dari permintaan. Kisaran harga yang dicapai ? para ahli memperkirakan, harga minyak akan jatuh di level $20 per barrel.

Suatu gambaran yang buruk untuk sektor migas apabila skenario ke 3 ini berjalan.

Bagaimana dampaknya dengan Indonesia ?

sumber :
http://www.cbc.ca/news/business/oil-price-scenarios-good-bad-and-ugly-1.2997386




Comments

Popular posts from this blog

Selasa di Bogor: Antara Rindu, Doa, dan Perpisahan

Hari Selasa ini terasa sedikit "berat". Langit Jakarta mendung menggantung, tapi udaranya gerah bukan main. Di tengah suasana yang bikin gerah hati dan fisik ini, tiba-tiba Oma mengajak pergi: "Ayo ke Bogor, kita tengok rumah lama." Tanpa pikir panjang, kami langsung meluncur. Persinggahan di Tajur Tujuan pertama adalah Tajur, Bogor . Rasanya kurang afdol kalau ke Bogor tapi tidak bawa buah tangan. Jadi, kami sempatkan mampir membeli oleh-oleh untuk kerabat di sana. Lucu ya, padahal Bogor itu gudangnya makanan, tapi tradisi membawa buah tangan tetap jadi perekat silaturahmi yang paling manis. Sebelum ke rumah utama, kami mampir dulu ke salah satu rumah kerabat. Di sinilah suasana mulai berubah haru. Kami mendapat kabar bahwa Oma penghuni rumah utama sedang sakit keras dan sudah tidak bisa berjalan lagi. Kabar dari Rumah Utama Begitu sampai di rumah utama, hati rasanya mencelos melihat kondisi Oma. Ternyata, kombinasi kolesterol dan gula darah tinggi membuatnya haru...

One Day Trip Perjalanan Dinas ke Bandung: Kereta, Coding, dan Travel 80km/jam!

Senin kemarin, tim kantor saya dapet tugas buat meluncur ke Kota Kembang. Bukan buat liburan cantik, tapi ada agenda penting ketemu klien. Perjalanan kali ini bener-bener definisi "efisiensi waktu". Berangkat: Laptop Tetap On! Kami pilih naik Kereta Api buat keberangkatan. Emang paling bener, sih. Selain bebas macet, suasana gerbong yang tenang malah bikin fokus makin tajam. Alhasil, sepanjang jalan saya bukannya liatin pemandangan, tapi malah asyik oprek laptop buat beresin kerjaan. Productivity on track! Bandung yang "Hangat" Sampai di Bandung, kami langsung disambut cuaca yang cukup kontras sama ekspektasi. Hari itu Bandung lagi cerah banget, terik, dan panasnya lumayan nendang. Ditambah lagi drama kemacetan kota yang khas, bikin perjalanan menuju lokasi klien jadi tantangan tersendiri. Tapi semua terbayar setelah diskusi bareng klien selesai dengan lancar. Pulang: Melaju Cepat dengan Shuttle Beres urusan, kami langsung arah balik ke Jakarta. Kali ini, kami pil...

Libur Lebaran 2026: Jakarta Ramai, Bagaimana Wisata Luar Kota?

Halo teman-teman! Nggak terasa ya, euforia Lebaran sudah mulai bergeser ke fase arus balik. Kalau kita lihat pemandangan di Jakarta selama beberapa hari terakhir, suasananya seru banget. Tempat hiburan "merakyat" seperti TMII, Ragunan, dan Kota Tua benar-benar jadi primadona. Ribuan wisatawan datang membawa sanak saudara, lengkap dengan bekal makanan melimpah yang digelar di atas tikar. Tradisi "makan bareng" keluarga besar ini sukses bikin suasana makin hangat! Kondisi ini tentu jadi berkah luar biasa buat para pedagang di sekitar lokasi wisata. Mereka benar-benar panen rejeki sepanjang libur Lebaran 2026 ini karena daya beli masyarakat di ibu kota tetap stabil untuk hiburan yang terjangkau. Kontras dengan Wisata Luar Kota Namun, cerita berbeda datang dari luar kota. Beberapa info menyebutkan adanya penurunan omzet di destinasi wisata daerah. Kabarnya, selain karena daya beli masyarakat yang sedang turun, penerapan tarif retribusi wisata yang cukup tinggi per ke...