Skip to main content

[ InTrav - Info Travelling ] Travelling ke Goa Maria Kanada, KRL dan Masa Pandemi

Kegiatan travelling itu sangat menyenangkan, apalagi dilakukan bersama keluarga dan biasanya dilakukan pada masa liburan.

Kali ini saya akan berbagi info tentang travelling di Goa Maria Kanada di daerah Rangkasbitung, kabupaten Lebak, Banten.

Lokasi dan Sejarah


info : GoogleMaps


Latar Belakang Sejarah 

Menurut sejarah dapat dibaca pada  laman web dari Paroki Bogor atau kalau  kesulitan untuk mengklik halaman link tersebut, saya copykan pada halaman ini, setelah itu bagian bawah akan menjelaskan "Bagaimana cara menuju ke Goa Maria Kanada dengan menggunakan Transportasi umum"



PAROKI SANTA MARIA TAK BERNODA, RANGKASBITUNG

Nama/Pelindung     : Santa Maria Tak Bernoda
Buku Paroki            : Sejak tahun 1988
Alamat                    : Jalan Multatuli Nomor 38 Rangkasbitung 42311 – Banten
Telepon (0252) 201652

Pastor Paroki            : RD. Andreas Bramantyo
Pastor Vikaris           : RD Andreas Arie Susanto

Sebelum tahun 1929 daerah Banten hanya dapat dikunjungi oleh Pastor-pastor Yesuit dari Jakarta secara berkala. Tetapi tidak selamanya para Pastor Yesuit itu mengunjungi daerah Banten, yang pada permulaannya memang agak unik dan istimewa.

Tak lama kemudian para Pastor Fransiskan pun hadir di bumi pertiwi Indonesia. Oleh karena itu, Vikaris Jendral Jakarta mempercayakan daerah Banten itu kepada “Para Pendekar” Gereja, yang berjubah coklat-coklat tua itu. Kemudian Pater HH. Lunter OFM mengawali karya baktinya dengan mengadakan kunjungan bulanan. Lama kelamaan kunjungan bulanan itu diganti dengan menetapnya Pastor pertama di daerah Banten (Rangkasbitung), yaitu Pater HH. Lunter OFM, sejak tanggal 12 Oktober 1933.

Di situlah Pater HH. Lunter OFM, berhasil bertemu dan berjuang bersama suster-suster Fransiskus Misionaris Maria (FMM). Para suster FMM itu kemudian menjalin kerjasama dengan “Persatuan Pengusaha Perkebunan Lebak”, dengan menyelenggarakan sebuah Rumah Sakit yang mungil dan sederhana, namun sanggup melayani pengobatan bagi penduduk Lebak Rangkasbitung dan sekitarnya. Sebenarnya Rumah Sakit itu telah didirikan oleh Para Pengusaha Perkebunan Lebak di Banten Tengah/Selatan.

Atas kerjasama yang baik antara Pastor dan Suster dengan Tuan van Leeuwen, maka didirikanlah sebuar Gereja kecil (Kapel) di Rangkasbitung. Kapel tersebut diberkati oleh Pater Provinsial Caminada, yaitu dua hari setelah beliau meletakkan batu pertama Biara Suster-suster Klaris di Cicurug, tanggal 19 Desember 1933.

Setelah Pater HH. Lunter OFM berkarya di Banten, beliau diganti oleh Pater YC. Heitkönig OFM, kemudian diganti lagi oleh Pater FJH. Teepe OFM, dan menyusul Pater AAG. Cremers OFM. Semenjak Pater HH. Lunter OFM berkarya mulailah bermunculan stasi kecil, sayangnya saat itu tidak dimulainya karya baru guna melayani rakyat Rangkasbitung, selain Karya Kesehatan hingga meletusnya Perang Dunia II. 

Saat itu memang masih berlaku Peraturan Pemerintah Kolonial yang menghalangi Pastor-pastor memasuki beberapa daerah pedalaman demi Orde en Rust, yaitu takut akan menimbulkan huru-hara akibat kedatangan para Pastor maupun pendeta di daerah pedalaman. Mereka diberi izin sebatas melayani dan mengunjungi umatnya sendiri. Faktor penghambat lainnya adalah masalah bahasa dan kebangsaan untuk dapat berkomunikasi dan berinteraksi dengan masyarakat setempat.

Selain hambatan diatas, muncullah hambatan lain di jaman penjajahan Jepang. Pada jaman Jepang itu, Pater AAG. Cremers OFM dan Pater Van der Hoogen dari Serang bersama para Suster asal Belanda dan Belgia ditahan di dalam Kamp (tahanan perang) di Cimahi dan Baros. Atas usaha Mgr. W. Willehem SJ, maka satu-satunya Suster, yaitu Suster Waldeburga FMM (berkebangsaan Jerman), dan dua Suster Ursulin berkebangsaan Indonesia (Jawa) tidak diinternir. Sehingga mereka dapat meneruskan karya bhaktinya di Rumah Sakit Lebak Rangkasbitung. 

Jerman merupakan sekutu Jepang, sehingga ada dispensasi bagi orang berkebangsaan Jerman. Demikian pula para “Pendekar Berjubah Coklat”, selama berada di Kamp (tahanan perang), para Pastor Yesuitlah yang sedikit banyak berkorban mengunjungi Umat Katolik di Rangkasbitung, yang saat itu juga mulai banyak bermunculan.

Setelah Jepang menyerah dan perang berakhir, maka para Suster Belanda, dan Pater AAG. Cremers OFM kembali pulang ke Rangkasbitung. Kalau kita melihat ke “dalam” bahwa Pater AAG. Cremers OFM itu menjadi “kurban” dari semangat nasionalisme para pemuda yang berkobar-kobar, yang pada saat itu belum mengenal peranan dan tugas seorang Pastor. Semula disangka seorang Pastor juga ikut memihak di bidang politik, selain menangani di bidang rohani bagi umatnya di wilayah Banten, sehingga Pater AAG. Cremers OFM itu ditangkap dan dikabarkan dalam bahaya besar. 

Tetapi berkat jasa dokter Adjidarmo (seorang Muslim), maka Pater AAG. Cremers bersama Pater Van der Hoogen OFM dari Serang berhasil diselamatkan hidupnya. Semula mereka dikabarkan telah meninggal dunia, sehingga Pater RJ. Koesnen OFM ditempatkan di Rangkasbitung sebagai pengganti Pater AAG. Cremers OFM. Tetapi, pada kenyataannya Pater AAG. Cremers dan Pater Van der Hoogen OFM itu muncul kembali dan mereka dalam keadaan sehat. Suasana di Rangkasbitung tetap “panas” sampai timbul lagi keadaan yang membahayakan, terutama bagi para Suster. 

Para Suster itu walaupun tidak mau meninggalkan Rangkasbitung, mereka juga “diamankan” dan dibawa ke Jakarta. Walaupun dengan perundingan yang cukup lama, akhirnya para Suster FFM itu akhirnya diizinkan pulang ke Rangkasbitung. Ketika mereka berada di garis Demarkasi antara tentara Belanda dan Tentara Pemuda Indonesia telah menunggu kedatangan mereka. Setelah masa perjuangan fisik usai, maka Pater RJ. Koesnen OFM yang mulai bertugas di Rangkasbitung sejak tersiarnya berita meninggalnya Pater AAG. Cremers OFM, tetap bertugas di Rangkasbitung yang kemudian diganti oleh Pater A. Schnijder OFM.

Karya Pendidikan

Di masa karya pelayanan Pater A. Schnijder OFM inilah maka Yayasan Mardi Yuana mulai bergerak untuk membantu bidang pendidikan bagi bangsa yang merdeka. Tanpa memandang agama dan latar belakang yang saling berbeda, Perguruan Mardi Yuana membantu masyarakat di Karesidenan Banten untuk memperoleh pendidikan. Selain mendirikan TK, SD, dan SMP di Serang, di Rangkasbitung didirikan pula TK, SD, dan SMP secara bertahap. Bahkan sampai ke pelosok-pelosok daerah Banten, yaitu Cisalak Baru, Cikadu, Cikareo, Cikotok, Sanghiyang Damar, dan Labuan.

Di Rangkasbitung pun ada Rumah Perawatan, sebagaimana di Sindanglaya yang bernama Asrama Santo Yusup, yaitu Asrama “Seri Kedjora”. Kedua Asrama tersebut ada pengurusnya sendiri dan tidak ada saling ketergantungan sama lain. Pengurus Asrama “Seri Kedjora” ditangani oleh Pater A. Schnijder OFM. Menurut data Paroki, yang tertanggal 30 September 1952 Asrama “Seri Kedjora” itu merawat dan membina maupun mendidik 11 anak yatim piatu. 

Pada saat itu Rumah Perawatan “Seri Kedjora” tidak memusat pada organisasi Yayasan Yatna Yuana, yang berkedudukan di Sukabumi. Tepat tanggal 25 Juli 1956 pengurus Asrama ” Seri Kedjora” itu dialihkan kepada Pater H.J.J Vermeulen OFM. Dan pada tanggal 4 April 1959 Asrama itu dihuni oleh 38 anak.

Lama kelamaan Asrama “Seri Kedjora” tersebut berubah fungsinya, yaitu untuk mengasramakan siswa-siswa Sekolah Mardi Yuana yang rumahnya jauh dari kota Rangkasbitung.

Adapun Asrama “Seri Kedjora”:
Bertujuan : mengajar dan mendidik putera-puteri warga Indonesia agar menjadi orang yang baik, berguna bagi masyarakat.
Dasarnya : Pancasila
Syarat penerimaan :
– tidak lebih muda dari 7 tahun
– tidak lebih tua dari 15 tahun
– berbadan sehat
– dan berkelakuan baik
Uang asrama : dapat berdamai

Akhirnya, karena kurangnya dana, maupun tidak ada pengurus yang sanggup menangani, maka Asrama “Seri Kedjora” dibubarkan pada pertengahan tahun 1983. Perlu dicatat bahwa Asrama “Seri Kedjora” itu juga sebagai tempat tinggal Pastor Paroki beserta Pater pembantunya. Kecuali itu, beberapa siswa yang pernah menikmati kebaikan dan perhatian Pater Vermeulen OFM, kini sedang mengalami penggodokan dan penggemblengan di Seminari Tinggi untuk mempersiapkan diri menjadi Pastor.

Peran para Pastor diatas tidaklah kecil dalam memberikan sumbangsihnya terhadap keberadaan Paroki Ini. Berikut ini di uraikan beberapa pastor yang pernah dan sedang berkarya di Paroki sebelah ujung barat Pulau Jawa ini.

1. Pastor HH. Lunter, OFM.
2. Pastor YC. Heitkonig, OFM.
3. Pastor FJH. Teepe, OFM.
4. Pastor AAG. Cremers, OFM.
5. Pastor WAJ. Kohler, OFM.
6. Pastor H. Van der Hoogen, OFM.
7. Pastor M. Ismael Hardjowardjojo, OFM.
8. Pastor Yos Wahyo Sudibyo, OFM.
9. Pastor RJ Koesnen, OFM.
10. Pastor Agustinus Schnijder, OFM.
11. Pastor JC. Postma, OFM.
12. Pastor HJJ.Vermeulen, OFM.
13. Mgr. NJC.Geise, OFM.
14. Pastor Rd. Mas CS. Tjipto Kusumo, Pr.
15. Pastor AG. Yacobus, OFM.
16. Pastor A. Sutono Wiriosuwarno, OFM.
17. Pastor TH. GY. Ruijs, OFM.
18. Pastor CS. Tjiptokusumo, OFM.
19. Pastor TH. Koopmann, OFM.
20. Pastor C. Van der Berg, OFM.
21. Pastor Vicente Kunrath, OFM.
22. Pastor HV. Genuchten, OFM.
23. Pastor P. Dupont, OFM.
24. Pastor Frans Sutono, OFM.
25. Pastor W. Hofsteede, OFM
26. Pastor J. Demmrs, OFM.
27. Pastor St. Danuwidjojo, Pr.
28. Pastor D. Parto Sudarmo, OFM.
29. Pastor Felix Teguh Suwarno, Pr.
30. Pastor Yoseph Hardjono, Pr.
31. Pastor Benyamin Sudarto, Pr.
32. Pastor Tarsisius Suyoto, Pr.
33. Pastor St. Sumardiyo, Pr.
34. Pastor Frans Mulyadi, Pr.
35. Pastor Fabianus S. Heatubun, Pr.
36. Pastor Markus Lukas, Pr.
37. Pastor YM. Ridwan Amo, Pr.
38. Pastor Paulus Haruno, Pr.
39. Pastor Ch. Tri Harsono, Pr.
40. Pastor Albertus Simbul Gaib, Pr.
41. Pastor AHY. Sudarto, Pr.

Gua Maria Bukit Kanada

Pada pesta Santa Maria Bunda Allah 1 Januari 1987, Paus Yohanes Paulus II mengumumkan untuk pertama kalinya tentang Tahun Maria. Hal tersebut ditegaskan kembali dalam Surat Gembala Paus atau Enslik Redemtoris Mater, tepatnya pada tanggal 25 Maret 1987 pada Pesta Maria menerima kabar dari Malaekat Gabriel. 

Tahun Maria terhitung sejak hari Pantekosta sampai dengan Hari Raya Maria Diangkat ke Surga. Inti Surat Gembala itulah yang memberikan motivasi kepada seluruh umat untuk merenungkan peran Maria sebagai Bunda Allah, Bunda Gereja, dan Bunda Penyelamat. Hal ini terlihat nyata dalam Devosi umat Katolik kepada Bunda Maria.

Umat Paroki Santa Maria Tak Bernoda Rangkasbitung menanggapi ajakan Bapa Suci maupun Bapa Uskup dengan caranya sendiri yang sangat simpatik. Dengan kemauan yang keras untuk mempersembahkan Gua Maria ditengah-tengah Suku Badui, maka Monumen yang hadir di Paroki ini merupakan sejarah sejarah tersendiri yang tak ternilai harganya, Berkat upaya Pastor Paroki dan Pastor Pembantu (saat itu Romo B. Sudarto Pr dan Romo Sumardiyo, Pr), maka Bapak Uskup pun (saat itu Mgr. Ign. Harsono, Pr.) merestui tekad itu. 

Panitia Pembangunan Gua Maria (PPMG) yang terbentuk bulan Februari 1988 mulai mewujudkan harga nyatanya yang memperoleh dukungan dari Pimpinan Konggregasi Suster-suster Fransiscanes Sukabumi di Rangkasbitung. Dukungan yang di berikan adalah berupa sebidang tanah yang sekomplek dengan SPK Misi Lebak Rangkasbitung dan dianggap memenuhi syarat sebagai Gua Maria. 

Pada tanggal 1 Mei 1988 Pastor Paroki meletakan batu pertama sebagai langkah awal pembangunan Gua Maria. Pembangunan Gua Maria itu selesai tepat pada tanggal 15 Agustus 1988, yaitu Hari Raya Maria diangkat ke Surga, bertepatan dengan penutupan Tahun Maria. Gua Maria ini di berkati oleh Mgr. Ign. Harsono, Pr. yang sekaligus menjadikan tempat ini sebagai tempat ziarah pertama di Keuskupan Bogor, tanah Banten. 

Mengingat Gua Maria ini terletak di Desa Jatimulya, Kampung Narimbang Dalam, maka Romo St. Sumardiyo, Pr. memberi nama Gua Maria Bukit Kanada, yang merupakan akronim dari kampong Narimbang Dalam. Sebuah nama yang indah di atas segala nama Gua atau tempat Ziarah lainnya di bumi persada tercinta ini. Sebuah kenangan manis yang penuh sejarah dan tercipta atas usaha keras serta kehendak yang kuat dari Umat Paroki Rangkasbitung di era 1987 1988.

Keadaan Paroki Saat Ini.

Umat Paroki Rangkasbitung yang berdasarkan Buku Permandian telah berusia 65 tahun pada tanggal 8 Agustus 1998 memiliki umat yang sebagian besar merupakan warga pendatang. Di tengah-tengah suku asli Banten, yaitu suku Badui, berdasarkan statistic tahun 1997 Paroki Rangkasbitung memiliki 1.692 umat yang terdiri atas umat pendatang asal DIY, Jawa Tengah, Sumatera, Flores, dan sebagian lagi warga keturunan warga Tionghoa. Pertumbuhan umatnya memang terbilang sangat kecil. Dalam kurun waktu satu tahun saja, maka rata-rata pertumbuhannya mencapai 10 sampai 20 orang baptisan baru dewasa/remaja.

Sekalipun terbilang kecil, namun dalam hal keorganisasian serta kegiatan menggereja, umat Paroki Rangkasbitung ini tidak mau ketinggalan dengan Paroki-Paroki lainnya. Beberapa kegiatan Paroki yang telah terlaksana dan terdapat dalam wadah organisasi misalnya saja, Bidang Sosial Ekonomi yang telah berupaya dalam APP, membentuk, mengkoordinir, serta membina unit Koperasi Paroki serta yang berada di lingkungan-lingkungan, dan bantuan pelayanan bagi pencari kerja maupun tertimpa musibah. Bidang Pastoral yang menitikberatkan pelayanan rohani yang berupa kegiatan Liturgi, Pewartaan, maupun pelayanan-pelayanan lainnya. 

Bidang Pendidikan dan Pembinaan Kader yang telah membina generasi muda (Remaja Katolik/Mudika) dan mendorong terbentuknya Pemuda Katolik yang hingga kini telah terdaftar di Kantor Sospol maupun di DPD KNPI Kabupaten Lebak.

Jadwal Misa Kudus :
Harian : Pukul 06.00 WIB
Jumat I : Pukul 18.00
Sabtu : Pukul 18.00
Minggu : Pukul 07.00 

Menuju ke Goa Maria Bukit Kanada Rangkasbitung  dengan Transportasi Umum 

Di blog ini saya  tidak membahas menggunakan kendaraan beroda 2 atau beroda 4, melainkan menggunakan kendaraan umum ( transportasi publik ) 

Saya berbagi trip dengan menggunakan KRL ( Kereta Rel Listrik ), Goa Maria ini dapat dijangkau menggunakan KRL dengan relasi Tanah Abang - Rangkasbitung dan kemudian dilanjutkan dengan transportasi Angkot ( angkutan kota ) Angkot 02 dengan trayek Kalijaga - Curug pp. Angkot ini berwarna merah dan list putih dibagian bawahnya, 

pesona alam selama perjalanan KRL ( dok : pribadi )

Tarif perjalanan KRL pun cukup terjangkau yakni Rp 8.000 sekali jalan, sedangkan untuk angkotnya Rp 5.000 dalam sekali jalan.

Begitu di Angkot merah putih ini, cukup bilang ke supirnya "Goa Maria Kanada", dan pasti langsung akan diantar tepat dipintu masuknya.

Sedangkan untuk pulangnya cukup naik angkot yang sama dari depan pintu gerbang Goa Maria ini.

Selama Pandemi Covid19 

Selama Pandemi Covid19 ini, Goa Maria Kanada ini tertutup untuk kegiatan ziarah dalam bentuk rombongan dan bis. Namun untuk ziarah secara pribadi masih diperbolehkan. 

Untuk mengikuti aturan pemerintah untuk mencegah penyebaran Covid19, Goa Maria Kanada ini menyediakan beberapa titik untuk Cuci tangan menggunakan Sabun. Untuk kegiatan Ibadah Misa pun masih dilakukan secara daring ( online ).

Nah, bagi yang kangen dengan situasi doa sini, bisa dilakukan devosi scara pribadi.


Cukup mudah bukan ?




Comments

Popular posts from this blog

Selasa di Bogor: Antara Rindu, Doa, dan Perpisahan

Hari Selasa ini terasa sedikit "berat". Langit Jakarta mendung menggantung, tapi udaranya gerah bukan main. Di tengah suasana yang bikin gerah hati dan fisik ini, tiba-tiba Oma mengajak pergi: "Ayo ke Bogor, kita tengok rumah lama." Tanpa pikir panjang, kami langsung meluncur. Persinggahan di Tajur Tujuan pertama adalah Tajur, Bogor . Rasanya kurang afdol kalau ke Bogor tapi tidak bawa buah tangan. Jadi, kami sempatkan mampir membeli oleh-oleh untuk kerabat di sana. Lucu ya, padahal Bogor itu gudangnya makanan, tapi tradisi membawa buah tangan tetap jadi perekat silaturahmi yang paling manis. Sebelum ke rumah utama, kami mampir dulu ke salah satu rumah kerabat. Di sinilah suasana mulai berubah haru. Kami mendapat kabar bahwa Oma penghuni rumah utama sedang sakit keras dan sudah tidak bisa berjalan lagi. Kabar dari Rumah Utama Begitu sampai di rumah utama, hati rasanya mencelos melihat kondisi Oma. Ternyata, kombinasi kolesterol dan gula darah tinggi membuatnya haru...

One Day Trip Perjalanan Dinas ke Bandung: Kereta, Coding, dan Travel 80km/jam!

Senin kemarin, tim kantor saya dapet tugas buat meluncur ke Kota Kembang. Bukan buat liburan cantik, tapi ada agenda penting ketemu klien. Perjalanan kali ini bener-bener definisi "efisiensi waktu". Berangkat: Laptop Tetap On! Kami pilih naik Kereta Api buat keberangkatan. Emang paling bener, sih. Selain bebas macet, suasana gerbong yang tenang malah bikin fokus makin tajam. Alhasil, sepanjang jalan saya bukannya liatin pemandangan, tapi malah asyik oprek laptop buat beresin kerjaan. Productivity on track! Bandung yang "Hangat" Sampai di Bandung, kami langsung disambut cuaca yang cukup kontras sama ekspektasi. Hari itu Bandung lagi cerah banget, terik, dan panasnya lumayan nendang. Ditambah lagi drama kemacetan kota yang khas, bikin perjalanan menuju lokasi klien jadi tantangan tersendiri. Tapi semua terbayar setelah diskusi bareng klien selesai dengan lancar. Pulang: Melaju Cepat dengan Shuttle Beres urusan, kami langsung arah balik ke Jakarta. Kali ini, kami pil...

Libur Lebaran 2026: Jakarta Ramai, Bagaimana Wisata Luar Kota?

Halo teman-teman! Nggak terasa ya, euforia Lebaran sudah mulai bergeser ke fase arus balik. Kalau kita lihat pemandangan di Jakarta selama beberapa hari terakhir, suasananya seru banget. Tempat hiburan "merakyat" seperti TMII, Ragunan, dan Kota Tua benar-benar jadi primadona. Ribuan wisatawan datang membawa sanak saudara, lengkap dengan bekal makanan melimpah yang digelar di atas tikar. Tradisi "makan bareng" keluarga besar ini sukses bikin suasana makin hangat! Kondisi ini tentu jadi berkah luar biasa buat para pedagang di sekitar lokasi wisata. Mereka benar-benar panen rejeki sepanjang libur Lebaran 2026 ini karena daya beli masyarakat di ibu kota tetap stabil untuk hiburan yang terjangkau. Kontras dengan Wisata Luar Kota Namun, cerita berbeda datang dari luar kota. Beberapa info menyebutkan adanya penurunan omzet di destinasi wisata daerah. Kabarnya, selain karena daya beli masyarakat yang sedang turun, penerapan tarif retribusi wisata yang cukup tinggi per ke...