Skip to main content

Etika dan kebiasaan baik ? Lakukan terus ...

Kali ini sedikit bercerita tentang masa lalu,..throw back lah kalo netijen jaman now bersabda ( hahahha )

Bercerita sebuah Etika dan Kebiasaan ( yang menurut gue baik ).

Sekali peristiwa, gue pinjem motor bulik untuk muter ndeso di NewYork, eit bukan NewYork kota Big Apple ini yah ( salah 1 bucket list berkunjung ke kota ini. ). Melainkan salah satu kota di Pulau Jawa yang terkenal dengan masakan Gudeg, Kesultanan dan Kota Pelajar.

yup... NewYorkartohadiningrat alias kota Yogyakarta.

Gue pinjem pakai motor ini hanya untuk sekedar melihat lingkungan di dusun-dusun Jogja. Pas naik motor ini, mata gue terfokuskan ke sebuah stiker kecil yang tertempel di stang motor. Tulisan stiker ini berbahasa jawa, yang artinya 

Kalau pinjam motor, jangan lupa isi bensinnya.

ilustrasi pinjam motor ( foto : google.com )


Seketika itu teringat sebuah cerita dari seorang supir Metromini 75 dan 76 di sebuah kawasan Pasar Rebo. Mereka bercerita, kalau Metromini pulang ke pool, harus wajib isi Solar dulu. Buat apa sih ? udah cape-cape narik bis dengan penumpang yang jumlahnya tidak stabil, pendapatan tidak stabil..tetapi harus pulang mampir ke SPBU buat ngisi Solar, plus nyuci bisnya. 

haissh apa ndak cape itu ya ?? 

Ternyata, ada pelajaran yang gue dapat dari percakapan dengan para supir ini. Mereka berpemikiran, setiap kendaraan, setiap peralatan yang mereka pakai harus READY dan SIAP DIPAKAI untuk hari esok ( hari berikutnya. )

dan mereka bilang, hal itu supaya tidak merepotkan mereka pada pagi harinya disaat mereka menjemput menarik penumpang yang bekerja.

coba pikirkan,....

Pagi hari, penumpang sudah naik dan penuh, pas lagi ditengah jalan kehabisan solar. Double trouble double zonk ...iya lah mau gak mau bis ini harus ngisi  BBM ke SPBU plus kena omelan penumpang plus kehilangan potensi penumpang. Belum lagi ternyata bis yang dipakai tidak siap pakai... Mogok. abis sudah...

Kembali ke cerita soal pinjam motor tadi.

Gue kemudian setelah pinjam pakai motor tadi, gue melipir ke SPBU. awal pinjam motor gue lihat stokan bensin di tangki melalui indikator masih ada setengah tangki. Pas di SPBU gw langsung isi BBM sampai indikator penuh. Sebelum pulang ke rumah bulik alih-alih mampir ke tukang cuci steam motor.

Sampai dirumah bulik, motor gue parkir aman, dalam kondisi motor bersih, BBM penuh. Siap dipakai untuk siapa saja dihari berikutnya.

Dari kejadian ini, gue mulai membiasakan diri dari hal kecil. Pinjam barang, dipulangkan kembali ke pemiliknya dalam kondisi bersih dan siap pakai.

Dengan kebiasaan ini pula, gue membantu diri gue sendiri, membantu orang lain. Semoga orang lain yang gue pinjem barangnya merasa senang saja sih dan membawa berkat dan damai bagi orang disekitar gue. cieeeh..cieeh.

Berusaha untuk menjadi Berkat dan bukan pembawa Laknat. Itu  gue...




Comments

Popular posts from this blog

Selasa di Bogor: Antara Rindu, Doa, dan Perpisahan

Hari Selasa ini terasa sedikit "berat". Langit Jakarta mendung menggantung, tapi udaranya gerah bukan main. Di tengah suasana yang bikin gerah hati dan fisik ini, tiba-tiba Oma mengajak pergi: "Ayo ke Bogor, kita tengok rumah lama." Tanpa pikir panjang, kami langsung meluncur. Persinggahan di Tajur Tujuan pertama adalah Tajur, Bogor . Rasanya kurang afdol kalau ke Bogor tapi tidak bawa buah tangan. Jadi, kami sempatkan mampir membeli oleh-oleh untuk kerabat di sana. Lucu ya, padahal Bogor itu gudangnya makanan, tapi tradisi membawa buah tangan tetap jadi perekat silaturahmi yang paling manis. Sebelum ke rumah utama, kami mampir dulu ke salah satu rumah kerabat. Di sinilah suasana mulai berubah haru. Kami mendapat kabar bahwa Oma penghuni rumah utama sedang sakit keras dan sudah tidak bisa berjalan lagi. Kabar dari Rumah Utama Begitu sampai di rumah utama, hati rasanya mencelos melihat kondisi Oma. Ternyata, kombinasi kolesterol dan gula darah tinggi membuatnya haru...

One Day Trip Perjalanan Dinas ke Bandung: Kereta, Coding, dan Travel 80km/jam!

Senin kemarin, tim kantor saya dapet tugas buat meluncur ke Kota Kembang. Bukan buat liburan cantik, tapi ada agenda penting ketemu klien. Perjalanan kali ini bener-bener definisi "efisiensi waktu". Berangkat: Laptop Tetap On! Kami pilih naik Kereta Api buat keberangkatan. Emang paling bener, sih. Selain bebas macet, suasana gerbong yang tenang malah bikin fokus makin tajam. Alhasil, sepanjang jalan saya bukannya liatin pemandangan, tapi malah asyik oprek laptop buat beresin kerjaan. Productivity on track! Bandung yang "Hangat" Sampai di Bandung, kami langsung disambut cuaca yang cukup kontras sama ekspektasi. Hari itu Bandung lagi cerah banget, terik, dan panasnya lumayan nendang. Ditambah lagi drama kemacetan kota yang khas, bikin perjalanan menuju lokasi klien jadi tantangan tersendiri. Tapi semua terbayar setelah diskusi bareng klien selesai dengan lancar. Pulang: Melaju Cepat dengan Shuttle Beres urusan, kami langsung arah balik ke Jakarta. Kali ini, kami pil...

Libur Lebaran 2026: Jakarta Ramai, Bagaimana Wisata Luar Kota?

Halo teman-teman! Nggak terasa ya, euforia Lebaran sudah mulai bergeser ke fase arus balik. Kalau kita lihat pemandangan di Jakarta selama beberapa hari terakhir, suasananya seru banget. Tempat hiburan "merakyat" seperti TMII, Ragunan, dan Kota Tua benar-benar jadi primadona. Ribuan wisatawan datang membawa sanak saudara, lengkap dengan bekal makanan melimpah yang digelar di atas tikar. Tradisi "makan bareng" keluarga besar ini sukses bikin suasana makin hangat! Kondisi ini tentu jadi berkah luar biasa buat para pedagang di sekitar lokasi wisata. Mereka benar-benar panen rejeki sepanjang libur Lebaran 2026 ini karena daya beli masyarakat di ibu kota tetap stabil untuk hiburan yang terjangkau. Kontras dengan Wisata Luar Kota Namun, cerita berbeda datang dari luar kota. Beberapa info menyebutkan adanya penurunan omzet di destinasi wisata daerah. Kabarnya, selain karena daya beli masyarakat yang sedang turun, penerapan tarif retribusi wisata yang cukup tinggi per ke...