Skip to main content

(cerpen) Antara Peron, Kantor, dan Meja Belajar

Perjalanan hari ini terasa lebih panjang dari biasanya, membelah Jakarta yang mulai riuh oleh napas mudik.


Estafet Pagi


Pukul enam pagi, saya sudah berada di dalam gerbong MRT dari Lebak Bulus. Kereta melaju tenang menuju Stasiun Sudirman, lalu bersambung dengan KRL ke arah Jatinegara. Karena waktu masih menunjukkan pukul tujuh, saya memilih menepi di lantai dua stasiun. 

Dari atas, saya menyaksikan gelombang manusia; tas-tas besar dan wajah lelah namun antusias khas pemudik Lebaran 2026 mulai mendominasi peron.

Perjalanan berlanjut. Saya turun di Stasiun Klender, menyambung angkot merah yang seliweran, hingga akhirnya tiba di depan kantor.


Gerbang yang Tertutup

Kejutan kecil menanti di depan pagar. Bapak office boy rupanya terlambat datang. Gerbang dan pintu utama masih terkunci rapat. Para staf yang sudah melakukan absensi hanya bisa berdiri bergerombol di teras, menunggu sang pemegang kunci muncul. Suasana baru mencair dan kerja pun dimulai setelah pintu akhirnya terbuka lebar.

Hari saya diisi dengan maraton dua sesi meeting online—sebelum dan sesudah salat Jumat. Setelah urusan layar selesai, saya beralih menjadi "agen travel" dadakan, sibuk mengurus booking tiket kereta dan hotel untuk agenda kegiatan kantor di bulan April mendatang.


Drama di Balik Pintu Rumah

Saya pulang saat langit mulai temaram. Di tengah gerbong KRL, sayup-sayup terdengar suara azan Maghrib. Di sekitar saya, beberapa penumpang tampak membatalkan puasa dengan air mineral seadanya.

Namun, ketenangan itu pecah saat saya melangkah masuk ke rumah. Suara Mama dan anak-anak terdengar meninggi. Penyebabnya klasik: nilai ulangan anak berada di bawah standar. Meja makan yang harusnya hangat menjadi tegang. 

Tanpa banyak bicara, saya mengambil peran penengah. Saya temani anak membedah kembali soal-soal tersebut, membimbingnya mengisi jawaban yang benar hingga jarum jam menunjukkan pukul 21.30.



Konsekuensi dan Maaf

Malam ini ditutup dengan sebuah ketegasan. Akhir pekan besok tidak ada waktu bermain; hanya ada buku dan belajar sebagai konsekuensi nilai yang anjlok. Dengan mata berkaca-kaca, si kecil meminta maaf kepada Mamanya.

Emosi mereda, dan kegiatan beralih ke persiapan terakhir: memasukkan baju ke koper. Sebab esok, perjalanan luar kota sudah menanti. Hari yang melelahkan, tapi setidaknya semua berakhir dengan pelukan dan persiapan baru.



Comments

Popular posts from this blog

Selasa di Bogor: Antara Rindu, Doa, dan Perpisahan

Hari Selasa ini terasa sedikit "berat". Langit Jakarta mendung menggantung, tapi udaranya gerah bukan main. Di tengah suasana yang bikin gerah hati dan fisik ini, tiba-tiba Oma mengajak pergi: "Ayo ke Bogor, kita tengok rumah lama." Tanpa pikir panjang, kami langsung meluncur. Persinggahan di Tajur Tujuan pertama adalah Tajur, Bogor . Rasanya kurang afdol kalau ke Bogor tapi tidak bawa buah tangan. Jadi, kami sempatkan mampir membeli oleh-oleh untuk kerabat di sana. Lucu ya, padahal Bogor itu gudangnya makanan, tapi tradisi membawa buah tangan tetap jadi perekat silaturahmi yang paling manis. Sebelum ke rumah utama, kami mampir dulu ke salah satu rumah kerabat. Di sinilah suasana mulai berubah haru. Kami mendapat kabar bahwa Oma penghuni rumah utama sedang sakit keras dan sudah tidak bisa berjalan lagi. Kabar dari Rumah Utama Begitu sampai di rumah utama, hati rasanya mencelos melihat kondisi Oma. Ternyata, kombinasi kolesterol dan gula darah tinggi membuatnya haru...

One Day Trip Perjalanan Dinas ke Bandung: Kereta, Coding, dan Travel 80km/jam!

Senin kemarin, tim kantor saya dapet tugas buat meluncur ke Kota Kembang. Bukan buat liburan cantik, tapi ada agenda penting ketemu klien. Perjalanan kali ini bener-bener definisi "efisiensi waktu". Berangkat: Laptop Tetap On! Kami pilih naik Kereta Api buat keberangkatan. Emang paling bener, sih. Selain bebas macet, suasana gerbong yang tenang malah bikin fokus makin tajam. Alhasil, sepanjang jalan saya bukannya liatin pemandangan, tapi malah asyik oprek laptop buat beresin kerjaan. Productivity on track! Bandung yang "Hangat" Sampai di Bandung, kami langsung disambut cuaca yang cukup kontras sama ekspektasi. Hari itu Bandung lagi cerah banget, terik, dan panasnya lumayan nendang. Ditambah lagi drama kemacetan kota yang khas, bikin perjalanan menuju lokasi klien jadi tantangan tersendiri. Tapi semua terbayar setelah diskusi bareng klien selesai dengan lancar. Pulang: Melaju Cepat dengan Shuttle Beres urusan, kami langsung arah balik ke Jakarta. Kali ini, kami pil...

Libur Lebaran 2026: Jakarta Ramai, Bagaimana Wisata Luar Kota?

Halo teman-teman! Nggak terasa ya, euforia Lebaran sudah mulai bergeser ke fase arus balik. Kalau kita lihat pemandangan di Jakarta selama beberapa hari terakhir, suasananya seru banget. Tempat hiburan "merakyat" seperti TMII, Ragunan, dan Kota Tua benar-benar jadi primadona. Ribuan wisatawan datang membawa sanak saudara, lengkap dengan bekal makanan melimpah yang digelar di atas tikar. Tradisi "makan bareng" keluarga besar ini sukses bikin suasana makin hangat! Kondisi ini tentu jadi berkah luar biasa buat para pedagang di sekitar lokasi wisata. Mereka benar-benar panen rejeki sepanjang libur Lebaran 2026 ini karena daya beli masyarakat di ibu kota tetap stabil untuk hiburan yang terjangkau. Kontras dengan Wisata Luar Kota Namun, cerita berbeda datang dari luar kota. Beberapa info menyebutkan adanya penurunan omzet di destinasi wisata daerah. Kabarnya, selain karena daya beli masyarakat yang sedang turun, penerapan tarif retribusi wisata yang cukup tinggi per ke...